Kalau hotel kamu terasa lebih sepi dari tahun lalu, kamu tidak sendirian. Data resmi menunjukkan penurunan nyata di tingkat hunian hotel di seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta, dan ada beberapa faktor struktural yang menjelaskan mengapa ini terjadi.
Memahami penyebabnya adalah langkah pertama sebelum bisa mengambil tindakan yang tepat.
Apa Kata Data?
Berdasarkan data resmi dari BPS DIY, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Yogyakarta pada Februari 2025 tercatat sebesar 52,34%, sementara hotel non-bintang hanya 21,46%.
Di level nasional, BPS Indonesia mencatat TPK hotel bintang nasional turun dari 48,38% pada Januari 2025 menjadi 47,21% pada Februari 2025. Memasuki 2026, angka ini kembali tertekan: Januari 2026 sebesar 47,53% dan Februari 2026 turun ke 44,89%.
Artinya rata-rata hotel bintang di Indonesia hanya mengisi kurang dari separuh kamarnya. Untuk hotel non-bintang, tantangannya bahkan lebih besar.
Penyebab 1: Pemotongan Anggaran Perjalanan Dinas Pemerintah
Ini adalah faktor yang paling signifikan di 2025. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang memangkas biaya perjalanan dinas dan rapat di hotel berdampak langsung pada occupancy. Hotel-hotel yang selama ini mengandalkan segmen MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) dari instansi pemerintah merasakan dampak paling keras.
Laporan dari Expat Life Indonesia mencatat bahwa lebih dari 30% pelaku industri perhotelan melaporkan penurunan pendapatan lebih dari 40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebagian besar didorong oleh berkurangnya tamu dari sektor pemerintah.
Penyebab 2: Oversupply Kamar Hotel
Selama beberapa tahun terakhir, jumlah hotel dan akomodasi baru di Yogyakarta terus bertambah. Sementara pertumbuhan jumlah wisatawan tidak selalu mengikuti laju pertumbuhan kapasitas kamar. Ketika penawaran jauh melebihi permintaan, semua pemain di pasar ikut merasakan tekanan occupancy.
Penyebab 3: Perubahan Perilaku Wisatawan
Wisatawan modern semakin memiliki banyak pilihan akomodasi di luar hotel konvensional: villa, guest house, kos harian, hingga properti di platform seperti Airbnb. Segmen wisatawan muda khususnya sering memilih opsi yang lebih terjangkau dan berkesan personal dibandingkan hotel standar.
Penyebab 4: Ketergantungan pada OTA yang Semakin Mahal
Semakin banyak hotel yang masuk ke platform OTA, persaingan di dalam platform itu sendiri semakin ketat. Untuk mempertahankan visibilitas, hotel harus ikut program promosi yang menambah biaya, atau menurunkan harga agar kompetitif, yang keduanya menggerus margin.
Yang Bisa Dikendalikan vs Yang Tidak
Ada faktor-faktor di atas yang tidak bisa dikendalikan secara individual: kebijakan anggaran pemerintah, oversupply pasar, dan pergeseran tren wisatawan adalah kondisi eksternal. Tapi ada hal-hal yang bisa dikendalikan:
Diversifikasi segmen tamu — jangan bergantung pada satu segmen yang rentan terhadap faktor eksternal
Kurangi ketergantungan OTA — bangun saluran direct booking yang tidak terdampak perubahan algoritma platform
Optimalkan RevPAR — bukan hanya kejar occupancy, tapi pastikan setiap kamar yang terisi memberikan pendapatan optimal
Investasi pada pengalaman tamu — hotel yang memberikan pengalaman unik dan berkesan memiliki pelanggan yang lebih loyal dan lebih mungkin kembali serta merekomendasikan ke orang lain
Perspektif Jangka Panjang
Penurunan occupancy yang terjadi sekarang bukan berarti industri perhotelan di Jogja sedang mati. Yogyakarta tetap salah satu destinasi wisata domestik terkuat di Indonesia. Tapi kondisi ini memaksa hotel-hotel yang selama ini beroperasi secara pasif, hanya mengandalkan OTA tanpa strategi aktif, untuk mulai berpikir lebih strategis tentang posisi dan proposisi nilai mereka.
Hotel yang keluar dari tekanan ini biasanya adalah yang paling cepat beradaptasi, bukan yang paling besar atau paling lama beroperasi.