Stefra Logo Stefra
Semua Artikel Tips Bisnis

Kenapa Occupancy Hotel Jogja Terus Turun? Data dan Fakta 2026

· 3 menit baca
occupancy hotel Yogyakarta turun tingkat hunian hotel Jogja 2026 penyebab hotel sepi Jogja data hotel BPS Yogyakarta
Kenapa Occupancy Hotel Jogja Terus Turun? Data dan Fakta 2026

Kalau hotel kamu terasa lebih sepi dari tahun lalu, kamu tidak sendirian. Data resmi menunjukkan penurunan nyata di tingkat hunian hotel di seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta, dan ada beberapa faktor struktural yang menjelaskan mengapa ini terjadi.

Memahami penyebabnya adalah langkah pertama sebelum bisa mengambil tindakan yang tepat.

Apa Kata Data?

Berdasarkan data resmi dari BPS DIY, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Yogyakarta pada Februari 2025 tercatat sebesar 52,34%, sementara hotel non-bintang hanya 21,46%.

Di level nasional, BPS Indonesia mencatat TPK hotel bintang nasional turun dari 48,38% pada Januari 2025 menjadi 47,21% pada Februari 2025. Memasuki 2026, angka ini kembali tertekan: Januari 2026 sebesar 47,53% dan Februari 2026 turun ke 44,89%.

Artinya rata-rata hotel bintang di Indonesia hanya mengisi kurang dari separuh kamarnya. Untuk hotel non-bintang, tantangannya bahkan lebih besar.

Penyebab 1: Pemotongan Anggaran Perjalanan Dinas Pemerintah

Ini adalah faktor yang paling signifikan di 2025. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang memangkas biaya perjalanan dinas dan rapat di hotel berdampak langsung pada occupancy. Hotel-hotel yang selama ini mengandalkan segmen MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) dari instansi pemerintah merasakan dampak paling keras.

Laporan dari Expat Life Indonesia mencatat bahwa lebih dari 30% pelaku industri perhotelan melaporkan penurunan pendapatan lebih dari 40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebagian besar didorong oleh berkurangnya tamu dari sektor pemerintah.

Penyebab 2: Oversupply Kamar Hotel

Selama beberapa tahun terakhir, jumlah hotel dan akomodasi baru di Yogyakarta terus bertambah. Sementara pertumbuhan jumlah wisatawan tidak selalu mengikuti laju pertumbuhan kapasitas kamar. Ketika penawaran jauh melebihi permintaan, semua pemain di pasar ikut merasakan tekanan occupancy.

Penyebab 3: Perubahan Perilaku Wisatawan

Wisatawan modern semakin memiliki banyak pilihan akomodasi di luar hotel konvensional: villa, guest house, kos harian, hingga properti di platform seperti Airbnb. Segmen wisatawan muda khususnya sering memilih opsi yang lebih terjangkau dan berkesan personal dibandingkan hotel standar.

Penyebab 4: Ketergantungan pada OTA yang Semakin Mahal

Semakin banyak hotel yang masuk ke platform OTA, persaingan di dalam platform itu sendiri semakin ketat. Untuk mempertahankan visibilitas, hotel harus ikut program promosi yang menambah biaya, atau menurunkan harga agar kompetitif, yang keduanya menggerus margin.

Yang Bisa Dikendalikan vs Yang Tidak

Ada faktor-faktor di atas yang tidak bisa dikendalikan secara individual: kebijakan anggaran pemerintah, oversupply pasar, dan pergeseran tren wisatawan adalah kondisi eksternal. Tapi ada hal-hal yang bisa dikendalikan:

  • Diversifikasi segmen tamu — jangan bergantung pada satu segmen yang rentan terhadap faktor eksternal

  • Kurangi ketergantungan OTA — bangun saluran direct booking yang tidak terdampak perubahan algoritma platform

  • Optimalkan RevPAR — bukan hanya kejar occupancy, tapi pastikan setiap kamar yang terisi memberikan pendapatan optimal

  • Investasi pada pengalaman tamu — hotel yang memberikan pengalaman unik dan berkesan memiliki pelanggan yang lebih loyal dan lebih mungkin kembali serta merekomendasikan ke orang lain

Perspektif Jangka Panjang

Penurunan occupancy yang terjadi sekarang bukan berarti industri perhotelan di Jogja sedang mati. Yogyakarta tetap salah satu destinasi wisata domestik terkuat di Indonesia. Tapi kondisi ini memaksa hotel-hotel yang selama ini beroperasi secara pasif, hanya mengandalkan OTA tanpa strategi aktif, untuk mulai berpikir lebih strategis tentang posisi dan proposisi nilai mereka.

Hotel yang keluar dari tekanan ini biasanya adalah yang paling cepat beradaptasi, bukan yang paling besar atau paling lama beroperasi.


Sumber

  1. BPS DIY — TPK Hotel di DIY Turun pada Februari 2025

  2. BPS Indonesia — Room Occupancy Rate of Star Hotels February 2025

  3. Expat Life Indonesia — Hotel Industry in Indonesia Faces a Crisis as Occupancy Rates Plunge

  4. BPS Indonesia — Room Occupancy Rate of Classified Hotel (Data Tabel)

S

Ditulis oleh Tim Stefra

Stefra adalah software house berbasis di Yogyakarta yang mengerjakan website dan aplikasi untuk bisnis di seluruh Indonesia. Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman langsung mengerjakan project digital untuk UMKM, startup, dan perusahaan.

Konsultasi dengan tim kami →

Siap mulai project kamu?

Konsultasi gratis via WhatsApp, kami bantu rekomendasikan solusi yang paling sesuai kebutuhan dan budget kamu.

Chat WhatsApp