Stefra Logo Stefra
Semua Artikel Tips Bisnis

Hotel Jogja Makin Sepi Tamu? Ini yang Bisa Dilakukan

· 3 menit baca
hotel Jogja sepi tamu cara meningkatkan occupancy hotel strategi hotel musim sepi tingkat hunian hotel Yogyakarta
Hotel Jogja Makin Sepi Tamu? Ini yang Bisa Dilakukan

Ada periode dalam setahun di mana kamar hotel terasa terlalu banyak dan tamu terlalu sedikit. Bagi hotel kecil di Jogja, musim sepi bukan hanya soal pendapatan yang turun, tapi juga soal biaya tetap yang terus berjalan: gaji staf, listrik, cicilan, dan pemeliharaan properti.

Memotong harga adalah respons paling umum, tapi bukan selalu yang paling efektif. Ada strategi yang bisa meningkatkan occupancy tanpa harus merusak persepsi nilai propertimu di mata tamu.

Pahami Dulu: Kapan dan Mengapa Sepi

Sebelum mengambil langkah apapun, kenali pola sepinya. Apakah selalu terjadi di bulan yang sama setiap tahun? Apakah terkait dengan momen tertentu seperti setelah lebaran atau setelah liburan sekolah berakhir? Apakah kompetitor di area yang sama juga sepi, atau hanya propertimu?

Jawaban atas pertanyaan ini menentukan strategi yang paling relevan. Sepi yang struktural (sama setiap tahun di bulan yang sama) butuh pendekatan berbeda dari sepi yang situasional (tiba-tiba turun karena faktor eksternal).

Data dari BPS menunjukkan tingkat hunian hotel bintang nasional berfluktuasi antara 47–70% sepanjang tahun, dengan Yogyakarta mencatat tingkat hunian tertinggi di antara provinsi lain pada Desember 2024 sebesar 70,24%. Artinya ada potensi besar di periode tertentu yang bisa dioptimalkan.

Strategi 1: Dynamic Pricing, Bukan Sekadar Diskon

Menurunkan harga flat di semua kamar untuk semua tanggal adalah pendekatan tumpul. Dynamic pricing berarti menyesuaikan harga berdasarkan permintaan aktual: lebih murah di hari-hari yang diprediksi sepi, lebih mahal di hari-hari yang lebih ramai bahkan di musim low.

Penelitian dari Lean Hotel System menunjukkan bahwa penerapan dynamic pricing meningkatkan occupancy rata-rata 12% pada studi terhadap 37 hotel. Sistem PMS modern biasanya sudah punya fitur ini atau bisa diintegrasikan.

Strategi 2: Paket Nilai Tambah

Daripada menurunkan harga kamar, tambahkan nilai. Paket sarapan gratis, late checkout, atau tur singkat ke spot wisata lokal terasa lebih menarik bagi tamu dibandingkan diskon harga yang sama nominalnya.

Riset dari Asksuite menemukan bahwa tamu yang memesan paket cenderung lebih jarang melakukan pembatalan dibandingkan tamu yang hanya memesan kamar. Di musim sepi, mengurangi cancellation rate sama pentingnya dengan menambah reservasi baru.

Strategi 3: Sasar Segmen yang Tidak Terdampak Musim

Wisatawan leisure memang turun di musim sepi, tapi ada segmen lain yang bergerak berbeda:

  • Tamu bisnis dan corporate — perusahaan sering mengadakan rapat, pelatihan, atau retreat di luar musim ramai karena harga lebih kompetitif. Tawarkan paket meeting room + akomodasi.

  • Tamu staycation lokal — warga Jogja dan sekitarnya yang ingin liburan singkat tanpa pergi jauh. Segmen ini bergerak di akhir pekan sepanjang tahun.

  • Tamu jangka panjang — mahasiswa, peneliti, atau pekerja yang butuh tempat tinggal sementara selama beberapa minggu. Harga bulanan yang kompetitif bisa mengisi kamar yang kosong di musim sepi.

Strategi 4: Aktifkan Database Tamu Lama

Tamu yang pernah menginap dan puas adalah prospek terbaik untuk kunjungan berikutnya. Di musim sepi, kirim penawaran eksklusif ke database tamu lama dengan pesan personal: "Kami rindu kehadiran Anda, dan kami punya penawaran khusus untuk kunjungan berikutnya."

Ini hanya bisa dilakukan kalau kamu punya data kontak tamu yang terkumpul selama ini, bukan data yang tertahan di platform OTA.

Strategi 5: Optimalkan Kehadiran Digital

Musim sepi adalah waktu terbaik untuk mengerjakan hal-hal yang tertunda: memperbarui foto di OTA dan website, membalas semua ulasan yang belum direspons, memperbaiki deskripsi properti, dan mengoptimalkan profil Google Business. Investasi waktu ini langsung berdampak pada kualitas first impression calon tamu ketika musim ramai tiba.

Yang Tidak Disarankan: Race to the Bottom

Menurunkan harga secara agresif untuk mengalahkan kompetitor terdekat mungkin mengisi kamar jangka pendek, tapi merusak persepsi nilai propertimu jangka panjang. Tamu yang terbiasa dengan harga sangat murah akan sulit menerima harga normal ketika musim ramai tiba, dan kamu justru menarik segmen tamu yang paling sensitif harga dan paling mudah pindah ke tempat lain.


Sumber

  1. BPS Indonesia — Tingkat Penghunian Kamar pada Hotel Bintang

  2. Lean Hotel System — Effective Strategies to Increase Hotel Occupancy in Low Season

  3. Asksuite — 5 Strategies to Increase Occupancy in Low Season

  4. Lighthouse — 5 Ways to Drive Bookings and Increase Profit in Low Season

S

Ditulis oleh Tim Stefra

Stefra adalah software house berbasis di Yogyakarta yang mengerjakan website dan aplikasi untuk bisnis di seluruh Indonesia. Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman langsung mengerjakan project digital untuk UMKM, startup, dan perusahaan.

Konsultasi dengan tim kami →

Siap mulai project kamu?

Konsultasi gratis via WhatsApp, kami bantu rekomendasikan solusi yang paling sesuai kebutuhan dan budget kamu.

Chat WhatsApp